Pembuka

TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGANNYA, SEMOGA BERMANFAAT

Sabtu, 30 Oktober 2010

Tangan Mulia


Sesosok tubuh tergolek di atas trotoar tanpa alas. Ia seorang lelaki dengan tubuh tanpa tangan dan kaki.
Sorot matanya menghiba berharap belas kasih pada setiap yang berlalu lalang di depannya. Di dekat tubuhnya yang kurus teronggok sebuah gelas plastik untuk menampung rasa peduli dari orang-orang yang tersentuh nuraninya.

Salsabila memandangi lama sosok pengemis cacat itu. Matanya sendu lalu ia mendongakkan kepalanya sambil berkata, “Bunda, aku ingin punya tangan mulia.”
“Kautsar juga mau punya tangan mulia!” seru Kautsar tiba-tiba. Rupanya, ia pun memperhatikan pengemis itu.

Segera ia minta ijin mengambil uang dari dompet Bunda, disusul adiknya. Saya mengiyakan sambil menatap wajah anak-anak itu. Terpancar rona bahagia di wajah polos mereka saat mengulurkan tangan menyerahkan sebentuk cinta pada pengemis tersebut.

Sepanjang menyusuri trotoar yang penuh pedagang jalanan, perhatian mereka tak lagi tertuju pada berbagai macam mainan. Kini mata mereka sibuk mencari-cari para pengemis yang terkadang mereka temukan diantara para pedagang jalanan itu. Bila mereka menemukan yang dicari, segera berlari menghampiri saya untuk mengambil uang dan kembali berlari menuju pengemis yang mereka temukan. Sambil berteriak gembira, “Aku mau tanganku mulia... aku mau disayang Allah!”

Sungguh tak terpikirkan sebelumnya ternyata mereka masih mengingat apa yang saya sampaikan tentang “tangan mulia- tangan yang disayang Allah” saat mereka sedang menyusuri Mueller Strasse, sebuah ruas jalan menuju toko Asia di kawasan Wedding, Berlin. Saat itu anak-anak melihat di beberapa tempat ada orang yang duduk sambil menengadahkan topi atau tangan mereka.

****

“Bunda, sedang apa orang itu?” tanya Kautsar ketika melihat seorang lelaki dengan penampilan funky duduk bersila di bagian luar swalayan Rossman yang bersebelahan dengan Vinh-Loi, sebuah swalayan yang menjual berbagai keperluan pangan dari Asia. Di sebelah kiri lelaki bermata kelabu itu duduk seekor anjing yang kelihatannya garang. Lelaki tersebut tampaknya masih muda dan fisiknya kelihatan sehat hanya saja ia terlihat lusuh dan sesekali tangannya menengadah saat orang lewat di hadapannya.

Di tempat yang tak jauh dari lelaki itu duduk seorang wanita muda membawa seorang balita. Ia bersandar pada tembok tempat keluar masuk orang yang menggunakan kereta bawah tanah. Ia melakukan hal yang sama dengan lelaki muda yang funky itu, menengadahkan tangan!

“Bunda, kenapa orang itu duduk di sana dan tangannya seperti itu?” Kautsar mengulangi pertanyaannya.

Sejenak saya terdiam, memikirkan kalimat yang hendak diucapkan agar mudah dimengertinya tentang untaian kalimat yang diucapkan lisan mulia kekasih Allah, Rasulullah yang diriwayatkan Muslim “Alyadul 'ulyaa khoirum minal yadis sufla, walyadul 'ulyaa hiyal munfiqatu,walyadus sufla hiyas saailah - Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah. Tangan di atas adalah tangan yang memberi, sedangkan tangan di bawah adalah tangan yang meminta”.

“Orang-orang itu tangannya selalu ditengadahkan supaya tangan kita menjadi tangan mulia. Tangan mulia itu tangan yang selalu memberi pertolongan,misalnya membagi uang yang kita punya kepada orang yang membutuhkan. Allah sayang sama orang yang tangannya mulia,” urai saya.

“Nah, ... sekarang Bunda ingin tahu, Kautsar dan Salsabila mau tidak punya tangan mulia, tangan yang yang disayang Allah?” saya mencoba memancing respon mereka.

“Mau...mau...mau!” Kautsar dan Salsabila serempak menjawab. Dengan segera mereka berlarian menghampiri para pengemis itu setelah sebelumnya saya bekali beberapa koin. Meskipun nyali mereka sempat ciut saat akan mendekati lelaki funky bersama anjingnya. Namun ternyata semangat untuk mempunyai tangan mulia tak menyurutkan niat mereka mencemplungkan koin ke dalam wadah uang yang telah disediakan lelaki itu. Hal yang sama, mereka lakukan pula pada wanita bersama balita yang digendongnya.

***
Dan kini, di tempat yang berbeda, anak-anak itu melihat lagi ada tangan-tangan menengadah menanti uluran tangan-tangan mulia. Kepolosan tingkah anak dan masih jernihnya warna hati mereka, membuat mereka mudah tersentuh melihat orang-orang yang menderita. Penuh semangat mengharap tangannya menjadi tangan mulia-tangan yang disayang Allah. Sehingga anak-anak itu terus berlarian sepanjang trotoar mencari tangan-tangan yang akan membuat tangan mereka menjadi mulia.

Saat mengawasi mereka dari kejauhan, terlintas dalam pikiran saya arti dari firman yang Maha Pengasih-Penyayang...

“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, akan dilipatgandakan (balasannya) bagi mereka, dan mereka akan mendapat pahala yang mulia.” (QS. Al-Hadid: 18)

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261).

Banyak tercantum dalam al-Quran ayat-ayat dimana Allah memberitahukan kabar gembira sebagai balasan bagi orang-orang yang tangannya mulia. Tapi entah kenapa tangan-tangan mulia ini tak mudah ada pada setiap orang? Kenapa selalu ada rasa enggan, berat hati dan mencari-cari dalih atau pembenaran untuk tidak berbagi rezeki walaupun sekedar recehan?

Padahal Allah juga telah memperingatkan pada kita dengan firmannya “Kamu sekali-kali tidak sampai pada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya”(QS.3:92).

Andai orang-orang dewasa memiliki jiwa peka dan semangat memiliki tangan mulia, akankah masih ada orang-orang di jalanan menanti belas kasih kita? akankah masih ada bayi-bayi kekurangan gizi dan anak-anak busung lapar yang tergolek lemas di rumah sakit menanti pertolongan? akankah masih ada erangan menahan sakit dan lapar dari gubuk-gubuk reyot di balik gedung-gedung pencakar langit? akankah masih ada anak-anak yang bunuh diri karena malu tak mampu membayar uang sekolah? Akankah...” Ah, tak mampu lagi saya dengarkan tanya yang memenuhi dan menyesak di ruang hati.

***
Semoga bencana yang bertubi-tubi melanda negeri kita, menjadi sebuah kesempatan bagi kita untuk mengasah hati agar lebih peduli pada sesama dan sebagai tarbiyah bagi jiwa kita untuk memperbaiki kualitas diri menjadi lebih baik untuk dapat meraih derajat taqwa.
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (QS.Al-Baqarah:177)
sumber: eramuslim.com

Baca Selanjutnya ..

Selasa, 26 Oktober 2010

Seringlah Berziarah Kubur


Umar bin Abdul Aziz adalah khalifah lurus yang ahli ibadah. Imam Ahmad pernah mengatakan, bahwa tidak ada seorangpun tabi’in yang ucapannya bisa dijadikan hujjah, selain Umar bin Abdul Aziz. Ketika ajalnya sudah mendekat, dia meminta isterinya, Fatimah, “Keluarlah dari kamar ini, sebab aku melihat beberapa makhluk yang bukan bangsa manusia dan bukan pula bangsa jin, yakni malaikat”, lirihnya.
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ ﴿٣٠﴾
نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ ﴿٣١﴾
نُزُلًا مِّنْ غَفُورٍ رَّحِيمٍ ﴿٣٢﴾

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), ‘Janganlah kmau merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu. Kamilah pelindung-pelindung dalam kehidupan dunia dan akhirat, didalamnya (surga) kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh apa yang kamu minta. Sebagai penghormatan (bagimu) dari Allah Yang Maha Pengampun, Maha Penyang”. (QS : Fushilat : 30-32)

Lalu, Umar bin Abdul Aziz bersuara sangat lirih, “Ya Allah. Teguhkanlah kami dengan kalimat yang teguh, ketika arwah kami menyesakkan kami dan penderitaan kami amat berat, sehingga tidak ada tempat lari dan berlindung kecuali kepda-Mu”, ucapnya.

يُثَبِّتُ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللّهُ مَا يَشَاء ﴿٢٧﴾

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat, dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki”. (QS : Ibrahim : 27)

Banyak orang yang ajalnya datang ketika maksiat mereka menggunung. Entah karena pembunuhan, zina, khamar, riba, nyanyian , tidak shalat lima waktu berjamaah, ataupun tidak peduli pada risalah Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam.

Laa ilaaha illallah, betapa lalainya mereka itu!
Sehabis ditangkap, Sa’id bin Jubair dibawa menghadap Al-Hajjaj.

“Siapa namamu?”, tanya Hajjaj mencomooh.

“Sa’id bin Jubair”, sahutnya.

“Bukan. Nama kamu adalah si Sial (Syaqi) bin Kusair”.

“Ibuku lebih tahu namaku daripada engkau”, jawabnya.

“Celaka kamu .. celaka pula ibumu”, balas Hajjaj, sambil melanjtukan.

“Demi Allah. Kamu akan saya masukkan ke dalam api yang menyala-nyala”, teriak Hajjaj

“Kalau aku tahu kamu sanggup melakukannya, pasti engkau sudah aku jadikan tuhan”, sergah Sa’id.

“Bawa sini harta kekayaan”, datangkanlah emas perak, cetus Hajjaj.

“Hajjaj”, kata Sa’id, “Sekiranya kekayaan ini engkau kumpulkan untuk menyelamatkan dirimu dari azab yang pedih, alangkah bagusnya. Tapi, bila engkau melakukan itu untuk riya dan ingin disebut orang, demi Allah tidak akan ada gunanya disisi Allah sedikitpun”, tegas Sa’id.

“Bawa ke sini budak perempuan yang bisa menyanyi”, perintah Hajjaj.
Lalu, Sa’id menangis.

“Apakah lagunya enak”, tanya Hajjaj.

“Demi Allah. Bukan. Aku menangis lantaran ada budak yang diperkerjakan untuk sesuatu yang b ukan untuk itu ia diciptakan, dan lantaran kayu yang dijadikan alat musik untuk digunakan bermaksiat kepda Allah”, cetus Sa’id.
Sa’id membacakan firman-Nya :
“Kemanapun kamu menghadap disanalah wajah Allah”. (QS : 115)

“Banting ke tanah!”, teriak Hajjaj penuh amarah.

Tetapi, Sa’id menjawab, “Darinya (tanah) itulah Kami menciptakan kamu dan kepadanyalah Kami akan megnembalikan kamu dan dari sanalah Kami akan mengeluarkan kamu pda waktu yang lain”. (QS : Thaha :55)

“Demi Allah. Sahya akan membunuh kamu dengan cara yang tidak eprnah digunakan orang”, kata Hajjaj.

“Hajjaj. Engkau boleh pilih cara sesukamu. Demi Allah, cara apapun yang engkau pilihl membunuhku, niscaya Allah juga akan membunuhmu dengan cara seperti itu”, cetus Sa’id.

Sebelum dibunuh, Sa’id berdo’a.
“Ya Allah. Jangan biarkan dia menindas siapapun setelah aku mati”, ucap Sa’id dengan lirih.

Kemudian, kepala Sa’id pun dipenggal oleh Hajjaj. Hanya beberapa bulan kemudian, Hajjaj meronta-ronta, karena sakit sampai Allah membinasakannya.

Tentu, hendaknya kita selalu mengingat kematian, yang akan datang setiap saat. Terkadang kita lalai dan lupa akan kematian, lupa peristiwa sesudah mati. Karena kita terperosok ke dalam maksiat, nafsu syahwat, syubhat, yang membuat Allah menjadi marah.

Diriwayatkan dari Maimun bin Mahram, ahli zuhud yang ahli ibadah dan alim, bahwa ia menggali sebuah lubang kubur di dalam rumahnya. Setiap malam ia masuk ke dalam kubur itu sambil menangis dan membaca al-Qur’an. Lalu, ia keluar lagi dan berujar kepada diri sendiri. ”Maimun sekarang engkau telah kembali ke dunia, kerjakanlah amal shaleh”, bisiknya dalam hati.

Mengingat mati bisa dilakukan dengan berziarah kubur. Seiring dengan berkembangnya peradaban, perkembangan budaya, berbagai macam godaan syahwat, ragam makanan yang lezat, corak pakaian dan barang-barang perabot, maka ziarah kubur jarang-jarang dilakukan. Akibatnya, kamatian pun dilupakan.

Ziarah kubur, mengucapkan salam kepada para penghuni makam, dan mendoakan mereka. Merenungi bagaimana pemusnah kenikmatan merenggut mereka, memasukkan mereka ke dalam liang yang gelap. Menarik mereka keluar dari rumah, gedung dan istana. Dahulu mereka makan minum, berfoya-foya, tertawa-tawa, mengendarai mobil mewah, menduduki jabatan tinggi, membangun gedung-gedung pencakar langit, dikawal tentara, dikerumuni banyak orang, bendera berkibar diatas kepala mereka, tetapi akhirnya semua direnggut dari tangan mereka, dan mereka dikuburkan ke dalam lubang-lubang yang sempti.

Dalam shahih Bukhari, Ibnu Umar ra, berkata Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam menarik pundakku, “Di dunia ini jadilah engkau seperti orang yang asing atau musafir”. Hanya orang-orang yang segera bertobat yang bersiap-siap menghadapi kematian.

Sa’id Ibnu Musayyib, ketika sekarat berujar, “Alhamdulillah. Selama empat puluh tahun, saya selalu berada di masjid Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam, ketika muazin mengumandang azan”, ucapnya. Wallahu’alam.

Baca Selanjutnya ..

Isti'jal


Isti’jal merupakan salah satu penyakit yang banyak diderita oleh para da’i, sehingga seringkali hal ini meskipun diiringi dengan niat yang ikhlas dan semangat yang tinggi membuat potensi dakwah dan harakah terhambat, bahkan tidak jarang mundur ke belakang. Bahkan yang lebih parah lagi
lahirnya sikap antipati dan ‘rasa ngeri’ yang dialamatkan kepada dunia dakwah dan harakah secara keseluruhan. Untuk itu perlu sekali masalah ini dipahami baik-baik, penyebab dan cara penanggulangannya.

Sebetulnya Islam memandang sifat tergesa-gesa adalah bagian dari watak dasar manusia, seperti yang telah Allah nyatakan :
“Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa” (QS. 17:11).

“Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa” (QS. 21:37)

Oleh karena itu Islam tidak “saklek” memandang isti’jal sebagai suatu hal yang dibuang jauh-jauh. Sebab ada kalanya sifat ini dibolehkan manakala persiapannya telah matang dan telah menguasai medan serta mempertimbangkan masak-masak akibat-akibat yang akan terjadi, sebagaimana kisah nabi Musa as.

“Mengapa kamu datang lebih cepat daripada kaummu, hai Musa. Berkata Musa : Itulah mereka sedang menyusuli aku dan aku bersegera kepada-Mu ya Rabb-ku supaya Engkau ridha (padaku)” (QS. 20: 83-84)

Sebaliknya, jika hanya bermodalkan semangat dan dorongan jiwa yang belum
memungkinkan , maka di sinilah isti’jal merupakan sebuah ‘penyakit’.

Sebab-Sebab Isti’jal

1. Dorongan jiwa.

Sebagaimana yang telah diutarakan, bahwa isti’jal adalah bagian dari watak dasar manusia, maka jika seorang da’i tidak bisa mengendalikan dirinya dan berfikir realistis, kemungkinan besar dia akan terperangkap dalam isti’jal.

2. Semangat dan gejolak Keimanan.

Seseorang yang imannya telah menancap kuat dalam dirinya maka dia akan
melahirkan kekuatan yang amat besar. Jika tidak diarahkan dengan tepat maka dia akan meledak tanpa menghiraukan dampak yang akan terjadi. Dalam kerangka inilah dakwah Rasul pada marhalah (fase) Makkiyah lebih dikonsentrasikan pada kesabaran dan ketabahan.

“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik’(QS. 73:10)

3. Era Globalisasi.

Zaman dimana kita hidup kini adalah zaman dimana segala sesuatu bergerak dengan cepat. Seseorang yang pagi harinya berada di Jakarta beberapa saat kemudian sudah bisa berada di Cairo, berita yang terjadi di belahan dunia bisa kita saksikan pada saat yang bersamaan. Gejala seperti inilah yang menjalar ke arah dunia harakah dimana segala sesuatu harus dirampungkan secepatnya.

4. Keberhasilan yang dicapai oleh musuh dan kurangnya pemahaman tentang
metode-metode yang mereka gunakan.Tak dapat disangkal lagi bahwa dunia sekarang ini lebih banyak dikendalikan oleh orang-orang kafir, sehingga banyak sekali program-program mereka yang terlaksana. Berdirinya negara Israel adalah salah satu (dari sekian banyak) bukti keberhasilan mereka seiring dengan keruntuhan khilafah Usmaniyah. Padahal sebelum itu negara Israel tak lebih dari angan-angan semata, tetapi setelah merampas sebagian dari bumi Islam-Palestina- mereka sudah dapat mewujudkan keinginannya, bahkan sesudah mulai menjalar ke Lebanon dan bukan tidak mungkin
seluruh negeri Arab lainnya, sesuai dengan impian mereka (orang-orang
Yahudi):Israel Raya dari sungai Nil sampai sungai Eufrat. Belum lagi penderitaan dan penindasan yang banyak dialami oleh umat Islam di banyak belahan dunia , kerugian moral ataupun fisik dan hukum-hukum Allah yang dimulai disingkirkan sedikit demi sedikit, adalah bagian yang tak terpisahkan dari makar yang terus menerus mereka lakukan di samping tentu saja kondisi kaum muslim yang semakin jauh dari Dinnnya

Sangat disayangkan kalau kondisi di atas ditanggapi oleh sebagian kaum muslim sebagai kejadian yang terjadi begitu saja, tanpa mau memahami bahwa untuk semua itu mereka melalui jalan yang panjang dan berliku-liku dengan strategi dan tahap-tahap tertentu dan disertai pengorbanan yang tidak sedikit. Dari sinilah banyak yang ‘nggak sabaran’ ingin mewujudkan keinginan mereka secepatnya sebagai mana orang-orang kafir telah mewujudkan keinginan mereka.

5. Meluasnya kemungkaran , tetapi tak paham, cara penanggulangannya yang paling tepat. Di zaman sekarang ini kemungkaran memang sangat merajalela apalagi sarana dan suasana untuk itu sangat tersedia (atau justru disediakan?). bagi orang-orang tertentu yang ingin hidup jauh dari dosa dan penuh dengan nilai –nilai keimanan, suasana seperti itu sudah barang tentu sangat menyiksa. Sikap seperti itu tentu akan melahirkan keinginan yang besar untuk menghapus kemungkaran, apalagi ketika diketahuinya banyak ayat-ayat atau hadits nabi yang menunjukkan betapa pentingnya kemungkaran dihilangkan. Bahwa menghilangkan kemungkaran wajib bagi
setiap muslim adalah hal yang tak perlu diragukan lagi. Akan tetapi yang perlu diperhatikan adalah bahwa tidak setiap kemungkaran dapat dihilangkan harus tidak berakibat kepada lahirnya kemungkaran harus tidak berakibat kepada lahirnya kemungkaran yang lebih besar.

Jika berakibat kepada kemungkaran yang lebih besar maka seorang da’i haru
menahan diri serta menjauh dari nya disertai dengan kebencian dalam hati,
sementara di lain pihak dia harus mencari metode yang paling tepat untuk
menghilangkan sampai terbuka baginya peluang untuk itu.

Cukup bagi kita contoh yang dilakukan Rasulullah SAW. Bagaimana ketika beliau masih berdakwah dalam marhalah Makkiyah tidak mengusik-ngusik berhala-berhala yang ada di dalam Ka’bah, karena kalau itu sampai dilakukan bukan tidak mungkin orang kafir Quraisy akan menggantikan dengan berhala yang lebih besar dan lebih banyak atau bahkan dakwahnya di Makkah menjadi terhalang sama sekali. Akan tetapi beliau tidak tinggal diam, pada saat yang bersamaan berusaha mencari dan mentarbiyah orang-orang yang bisa diajaknya untuk memperjuangkan dakwahnya
bersama-sama.

6. Kerja dengan mengabaikan pengalaman sebelumnya.

Pengalaman adalah guru yang terbaik, orang yang tidak mau belajar dari
pengalaman akan terjebak dua kali di tempat yang sama. Dalam sejarah seringkali
isti’jal yang tidak didahului oleh pembinaan yang mantap hanya memberikan
kesempatan yang lebih besar bagi musuh-musuh Allah untuk segera menumpas lajunya
dakwah dan harakah.

7. Tak kuat menanggung cobaan dan jalan dakwah yang panjang.

Cobaan dan waktu yang terpisahkan dari dakwah itu sendiri, seseorang yang tidak siap menghadapi hal ini akan sulit bertahan dan akhirnya akan mengambil jalan pintas. Padahal di zaman Rasul sahabat Kahabbab bi Arit pernah mengadu dan mohon agar dia berdoa kepada Allah SWT agar cepat-cepat menurunkan bantuannya setelah beratnya derita dan siksaan yang dilakukan oleh orang-orang kafir kepadanya dan sahabat-sahabatnya. Tetapi untuk pengaduannya itu Rasul masih menganggapnya
‘tergesa-gesa’ sambil membandingkannya dengan umat terdahulu yang tabah dan tsabat (eksis) di atas jalan Allah meskipun ada yang harus menggali kuburan untuk dirinya sendiri, di gergaji kepalanya dan tubuhnya dibelah dua atau ada juga yang disisir dengan sisir besi hingga terkelupas dagingnya sampai ke tulang-tulangnya.

8. Melupakan ghayah (tujuan) seorang muslim.

Banyak da’i yang keliru menjadikan natijah (hasil) sebagai ghayah dari setiap
usahanya dalam dakwah , sehingga tatkala natijah tak kunjung datang, hatinya menjadi tak tenteram dan akhirnya mengarah pada sikap isti’jal. Padahal ghayah seorang muslim adalah mardhotillah dan itu akan terwujud manakala seorang da’i selalu I’tizam dalam manhaj-Nya serta tsabat hingga akhir hayat, terlepas apakah dia berhasil atau tidak, karena yang Allah tuntut adalah usaha seseorang bukan natijahnya.

“Maka siapa yang berharap berjumpa dengan Rabbnya, hendaklah beramal shalih dan tidak menyekutukannya dalam beribadah kepada Rabb-nya.”(Q.S. 18: 110)

9. Melupakan sunnatullah terhadap orang-orang kafir.

Salah satu sunnatullah terhadap mereka adalah menangguhkan azabnya dan
mengulur-ulur keruntuhannya.

“Dan Aku memberi tangguh kepada mereka, sesungguhnya rencana-Ku amat teguh’(Q.S. 68:45)

10. Keberhasilan yang diraih pada tahap-tahap permulaan.

Adakalanya seseorang terpedaya oleh keberhasilannya sendiri, seperti jumlah pengikut yang cepat bertambah atau berhasilnya beberapa program yang dia canangkan, dengan itu dia kira segalanya terbuka lebar untuk mencapai keberhasilan-keberhasilan berikutnya selekas-lekasnya. Padahal musuh setiap saat selalu mengintai dan mencari kesempatan yang paling tepat untuk menghancurkan gerakan dakwah.

11. Berteman dengan seorang yang memiliki sifat isti’jal.

Pengaruh seorang teman sangat besar sekali dalam membentuk pribadi seseorang, apalagi jika teman tersebut memiliki pribadi yang kuat. Kemungkinan isti’jal akibat pengaruh teman adalah bukan hal yang mustahil.

Penanggulangan Isti’jal

1. Memperhatikan kembali dengan cermat dampak negatif yang ditimbulkan oleh sikap isti’jal yang tanpa perhitungan (tanpa harus menuding siapa-siapa)

2. Mengambil ibrah dari proses penciptaan alam ini, dimana Allah SWT dengan segala kekuasaanya mampu menciptakan segala sesuatu dalam sekejap, tetapi menciptakan langit dan bumi dalam waktu enam hari (Q.S. 7:54)

3. Memperhatikan kembali sirah nabawiyah dan para sahabatnya, bagaimana sabar dan konsistennya mereka dalam jalan Allah walau menghadapi cobaan yang berat dan jalan yang amat panjang. Begitu pula sejarahnya pada ulama dan para da’i yang iltizam. Dengan manhaj Allah dan Rasul-Nya serta sabar di atasnya.

4. Berdakwah atas dasar manhaj yang jelas, memiliki sasaran jangka pendek dan jangka panjang lengkap dengan marhalah-marhalah yang harus dilalui. Dengan hal semacam ini potensi yang besar jadi terserap dalam kerja yang efektif dan efisien tidak diarahkan kepada hal yang malam memperlemah potensi itu sendiri.

5. Memahami strategi dan metode musuh-musuh Allah dalam menjalankan usaha mereka.

6. Tidak takut dan gentar dengan kondisi musuh-musuh Allah yang telah mapan dan telah menancapkan kukunya kuat-kuat di dunia Islam, berdasarkan keyakinan bahwa Allah SWT dapat dengan mudah menghilangkan semua itu.

“Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat mereka adalah jahanam; dan jahanam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya”. (Q.S. 3: 196-197)

“Sesungguhnya orang kafir itu menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian mereka menjadi sesalan bagi mereka dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam neraka jahannamlah mereka orang-orang kafir dikumpulkan” (Q.S.8:36)

7. Melatih diri sendiri untuk selalu bersikap hati-hati dalam melakukan tindakan dan punya pandangan jauh ke depan.

8. Mempelajari baik-baik cara menghilangkan kemungkaran supaya tidak melahirkan kemungkaran baru yang lebih besar dan tentu saja dapat menghindari sikap isti’jal memperhatikan kembali ghayah yang harus diraih oleh seorang muslim supaya tidak terburu-buru ingin melihat hasil yang belum waktunya dan memaksakan kedatangannya.

Seorang Da’i Antara Futur Dan Isti’jal

Futur (patah semangat) dan isti’jal adalah dua hal yang sepatutnya dihindari
oleh seorang da’i , karena kedua-duanya menunjukkan adanya ketidakseimbangan dakwah di mana salbiyahnya (negatifnya) lebih besar daripada ijabiyahnya (positifnya). Apalagi dinul Islam adalah din yang tawazun dalam segala aspeknya begitupun dalam dakwah dan harakah. Seorang da’i dituntut untuk selalu menjaga keseimbangan antara futur dan isti’jal, dalam artian dia harus selalu berusaha meningkatkan dakwahnya (kuantitas ataupun kualitas) atau paling tidak mempertahankan kondisi yang sudah ada jangan sampai mundur, serta menggunakan kesempatan dan potensial yang tersedia juga tidak menyia-nyiakan waktu terbuang
percuma, tetapi juga tidak ‘over dosis’ memaksakan natijah yang belum waktunya tercapai, sabar terhadap segala cobaan dan optimis terhadap masa depan Islam.

Baca Selanjutnya ..

Kamis, 21 Oktober 2010

Sejarah Tahun Hijriyah


Tahun Hijriah adalah sistim penanggalan Islam yang didasarkan atas peredaran bulan [qomariyah]. Maka disebut juga Tahun Qomariyah. Penamaan yang lebih populer adalah 'Tahun Hijriah'. Karena awal tarikh hijriah dihitung dari hijrahnya Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wasallam, dari Mekah ke Madinah.
Hijrah berasal dari kata yang artinya : memalingkan muka dari seseorang dan tidak memperdulikan lagi. Seorang muslim yang terpaksa meninggalkan kampung halaman atau tanah airnya karena agama disebut Muhajir. Yang dianggap hari hijrah ialah hari tanggal 8 Rabi'ul Awwal -20 September 622M. Penetapan tahun Hijriah dilakukan pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, Tepatnya pada tahun ke-empat ia berkuasa, yakni hari Kamis, 8 Rabi'ul Awwal 17 H


Tarikh Islam mulai dihitung dari tanggal 1 Muharram, yaitu 15 Juli 622 M. Menurut perhitungan, tarikh islam kira-kira 11 hari lebih singkat dari tahun menurut perhitungan peredaran matahari. Sedikit informasi untuk menghitung bagaimana tahun hijriah (H) bertepatan atau sebaliknya dengan tahun masehi (M) maka dapat dipakai rumus M = 32/33 ( H+622 ) atau sebaliknya H = 33/32 (M-622).
Perhitungan tahun kamariah sendiri sudah dikenal jauh sebelum Islam. Satu tahun kamariah lamanya 354 hari, 8 jam, 47 menit dan 46 detik. Terdiri dari 12 bulan, masing-masing lamanya 29 hari, 12 jam, 44 menit dan 3 detik. Perhitungan waktu berdasarkan matahari dan bulan disebut dalam Al Qur'an [ QS Yuunus; 10:5]

KEUNGGULAN TAHUN HIJRIYAH
Menurut yang saya tahu,para petani yang menggunakan tahun qomariah atau tahun jawa jarang sekali yang mengalami gagal panen lantaran salah perhitungan musim.malah justru sebaliknya,para petani yang menggunakan kalender masehi yang justru banyak mengalami gagal panen karena tidak bisa memepridiksi musim.di tahun qomariah tidak ada namanya tahun kabisat, Itu artinya perhitungannya sudah mendekati tepat.dan itu merupakan ketetapan yang di wahyukan Allah kepada Nabi Muhammad Saw.seperti kita ketahui tahun kabisat adalah tahun pelengkap dari kelebihan tahun tahun sebelumnya,artinya dalam setahun kita kelebihan waktu sekitar 1/4 hari atau 6 jam dari yang seharusnya.dan itu akan terus seperti itu klo tidak ada tahun penggenap dari kelebihan itu,makanya di buatlah tahun kabisat yang setiap 4 tahun sekali terdapat kelebiahan hari di bulan Februari untuk menghilangkan kelebihan itu dan itu akan berlangsung terus dan terus,

Anda bisa bayangkan bila dalam empat tahun telah bertambah satu hari,sudah berapa lamakah hari yang telah bertambah selama ini, dan berapa lamakah sudah ada pergeseran waktu perhitungan musim yang telah terjadi,silahkan anda hitung sendiri.
dan masih banyak lagi kelebihan-kelebihan yang lain.

Baca Selanjutnya ..

Rabu, 20 Oktober 2010

Sunah-Sunah Hari Jum'at


Hari Jumat adalah hari yang mulia, dan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia memuliakannya. Keutamaan yang besar tersebut menuntut umat Islam untuk mempelajari petunjuk Rasulullah dan sahabatnya, bagaimana seharusnya msenyambut hari tersebut agar amal kita tidak sia-sia dan mendapatkan pahala dari Allah ta’ala. Berikut ini beberapa adab yang harus diperhatikan bagi setiap muslim yang ingin menghidupkan syariat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Jumat

1. Memperbanyak Sholawat Nabi

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Sesungguhnya hari yang paling utama bagi kalian adalah hari Jumat, maka perbanyaklah sholawat kepadaku di dalamnya, karena sholawat kalian akan ditunjukkan kepadaku, para sahabat berkata: ‘Bagaimana ditunjukkan kepadamu sedangkan engkau telah menjadi tanah?’ Nabi bersabda: ‘Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.” (Shohih. HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasa’i)

2. Mandi Jumat

Mandi pada hari Jumat wajib hukumnya bagi setiap muslim yang balig berdasarkan hadits Abu Sa’id Al Khudri, di mana Rasulullah bersabda yang artinya, “Mandi pada hari Jumat adalah wajib bagi setiap orang yang baligh.” (HR. Bukhori dan Muslim). Mandi Jumat ini diwajibkan bagi setiap muslim pria yang telah baligh, tetapi tidak wajib bagi anak-anak, wanita, orang sakit dan musafir. Sedangkan waktunya adalah sebelum berangkat sholat Jumat. Adapun tata cara mandi Jumat ini seperti halnya mandi janabah biasa. Rasulullah bersabda yang artinya, “Barang siapa mandi Jumat seperti mandi janabah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Menggunakan Minyak Wangi

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Barang siapa mandi pada hari Jumat dan bersuci semampunya, lalu memakai minyak rambut atau minyak wangi kemudian berangkat ke masjid dan tidak memisahkan antara dua orang, lalu sholat sesuai yang ditentukan baginya dan ketika imam memulai khotbah, ia diam dan mendengarkannya maka akan diampuni dosanya mulai Jumat ini sampai Jumat berikutnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Bersegera Untuk Berangkat ke Masjid

Anas bin Malik berkata, “Kami berpagi-pagi menuju sholat Jumat dan tidur siang setelah sholat Jumat.” (HR. Bukhari). Al Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Makna hadits ini yaitu para sahabat memulai sholat Jumat pada awal waktu sebelum mereka tidur siang, berbeda dengan kebiasaan mereka pada sholat zuhur ketika panas, sesungguhnya para sahabat tidur terlebih dahulu, kemudian sholat ketika matahari telah rendah panasnya.” (Lihat Fathul Bari II/388)

5. Sholat Sunnah Ketika Menunggu Imam atau Khatib

Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu menuturkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mandi kemudian datang untuk sholat Jumat, lalu ia sholat semampunya dan dia diam mendengarkan khotbah hingga selesai, kemudian sholat bersama imam maka akan diampuni dosanya mulai jum’at ini sampai jum’at berikutnya ditambah tiga hari.” (HR. Muslim)

6. Tidak Duduk dengan Memeluk Lutut Ketika Khatib Berkhotbah

“Sahl bin Mu’ad bin Anas mengatakan bahwa Rasulullah melarang Al Habwah (duduk sambil memegang lutut) pada saat sholat Jumat ketika imam sedang berkhotbah.” (Hasan. HR. Abu Dawud, Tirmidzi)

7. Sholat Sunnah Setelah Sholat Jumat

Rasulullah bersabda yang artinya, “Apabila kalian telah selesai mengerjakan sholat Jumat, maka sholatlah empat rakaat.” Amr menambahkan dalam riwayatnya dari jalan Ibnu Idris, bahwa Suhail berkata, “Apabila engkau tergesa-gesa karena sesuatu, maka sholatlah dua rakaat di masjid dan dua rakaat apabila engkau pulang.” (HR. Muslim, Tirmidzi)

8. Membaca Surat Al Kahfi

Nabi bersabda yang artinya, “Barang siapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jumat maka Allah akan meneranginya di antara dua Jumat.” (HR. Imam Hakim dalam Mustadrok, dan beliau menshahihkannya)

wallahu'alam

semoga bermanfaat

Baca Selanjutnya ..

Kenapa Orang Yahudi Pintar


Artikel DR Stephen Carr Leon patut menjadi renungan bersama. Stephen menulis dari pengamatan langsung. Setelah berada tiga tahun di Israel karena menjalani housemanship di beberapa rumah sakit disana. Dirinya melihat ada beberapa hal yang menarik yang dapat ditarik sebagai bahan tesisnya, yaitu, "Mengapa Yahudi Pintar?"

Ketika tahun kedua, akhir bulan Desember 1980, Stephen sedang menghitung hari untuk pulang ke California , terlintas dibenaknya, apa sebabnya Yahudi begitu pintar? Kenapa Tuhan memberi kelebihan kepada mereka? Apakah ini suatu kebetulan? Atau hasil usaha sendiri?

Maka Stephen tergerak membuat tesis untuk PhD-nya. Sekadar untuk Anda ketahui, tesis ini memakan waktu hampir 8 tahun. Karena harus mengumpulkan data-data yang setepat mungkin.

Marilah kita mulai dengan persiapan awal melahirkan. Di Israel, setelah mengetahui sang ibu mengandung, sang ibu akan sering menyanyi dan bermain piano. Si ibu dan bapak akan membeli buku matematika dan menyelesaikan soal bersama suami.

Stephen sungguh heran karena temannya yang mengandung sering membawa buku matematika dan bertanya beberapa soal yang tak dapat diselesaikan. Kebetulan Stephen suka matematika.

Stephen bertanya, "Apakah ini untuk anak kamu?" Dia menjawab, "Iya, ini untuk anak saya yang masih didalam kandungan, saya sedang melatih otaknya, semoga ia menjadi jenius." Hal ini membuat Stephen tertarik untuk mengikuti terus perkembangannya.

Kembali ke matematika tadi, tanpa merasa jenuh si calon ibu mengerjakan latihan matematika sampai genap melahirkan. Hal lain yang Stephen perhatikan adalah cara makan. Sejak awal mengandung sang ibu suka sekali memakan kacang badam dan korma bersama susu.

Tengah hari makanan utamanya roti dan ikan tanpa kepala bersama salad yang dicampur dengan badam dan berbagai jenis kacang.

Menurut wanita Yahudi itu, daging ikan sungguh baik untuk perkembangan otak dan kepala ikan mengandung kimia yang tidak baik yang dapat merusak perkembangan dan pertumbuhan otak anak di dalam kandungan. Ini adalah adat orang-orang Yahudi ketika mengandung. Menjadi semacam kewajiban untuk ibu-ibu yang sedang mengandung mengkonsumsi pil minyak ikan..

"Ketika saya diundang untuk makan malam bersama orang-orang Yahudi, perhatian utama saya adalah menu mereka. Pada setiap undangan yang sama saya perhatikan, mereka gemar sekali memakan ikan (hanya isi atau fillet)."

Biasanya kalau sudah ikan, tidak ada daging. Ikan dan daging tidak ada bersama di satu meja. Menurut mereka, campuran daging dan ikan tak bagus dimakan bersama. Salad dan kacang adalah suatu kemestian, terutama badam.

Uniknya, mereka akan memakan buah-buahan dahulu sebelum memakan hidangan utama. Jangan terperanjat jika Anda diundang ke rumah Yahudi Anda akan dihidangkan buah-buahan dahulu. Menurut mereka, dengan memakan hidangan karbohidrat (nasi atau roti) dahulu kemudian buah-buahan, ini akan menyebabkan kita merasa mengantuk, lemah dan payah untuk memahami pelajaran di sekolah.

Di Israel, merokok adalah tabu, apabila Anda diundang makan di rumah Yahudi, jangan sekali-kali merokok. Tanpa sungkan mereka akan menyuruh Anda keluar dari rumah mereka, menyuruh Anda merokok di luar rumah.

Menurut ilmuwan di Universitas Israel , penelitian menunjukkan nikotin dapat merusakkan sel utama pada otak manusia dan akan melekat pada gen. Artinya, keturunan perokok bakal membawa generasi yang cacat otak (bodoh). Suatu penemuan yang dahsyat ditemukan oleh saintis yang mendalami bidang gen dan DNA.

Perhatian Stephen selanjutnya adalah mengunjungi anak-anak Yahudi. Mereka sangat memperhatikan makanan. Makanan awal adalah buah-buahan bersama kacang badam, diikuti dengan menelan pil minyak ikan (code oil lever).

Dalam pengamatan Stephen, anak-anak Yahudi sungguh cerdas. Rata-rata mereka memahami tiga bahasa yaitu Hebrew, Arab, dan Inggris. Sejak kecil mereka telah dilatih main piano dan biola. Ini adalah suatu kewajiban. Menurut mereka bermain musik dan memahami not dapat meningkatkan IQ. Sudah tentu bakal menjadikan anak pintar.

Ini menurut saintis Yahudi, hentakan musik dapat merangsang otak. Tak heran banyak pakar musik dari kaum Yahudi.

Seterusnya di kelas 1 hingga 6, anak-anak Yahudi akan diajar matematika berbasis perniagaan. Pelajaran IPA sangat diutamakan. Di dalam pengamatan Stephen, perbandingan anak-anak di Calfornia, dalam tingkat IQ-nya bisa dikatakan 6 tahun kebelakang!

"Segala pelajaran akan dengan mudah ditangkap oleh anak Yahudi. Selain dari pelajaran tadi, olahraga menjadi kewajiban bagi mereka. Olahraga yang diutamakan ialah memanah, menembak, dan berlari. Menurut teman saya ini memanah dan menembak dapat melatih otak memfokus sesuatu perkara disamping mempermudah persiapan membela negara."

"Selanjutnya perhatian saya menuju ke sekolah tinggi (menengah) disini murid-murid digojlok dengan pelajaran sains. Mereka didorong untuk menciptakan produk. Meski proyek mereka kadangkala kelihatannya lucu dan memboroskan, tetap diteliti dengan serius. Apalagi kalau yang diteliti itu berupa senjata, medis, dan teknik. Ide itu akan dibawa ke jenjang yang lebih tinggi."

"Satu lagi yang diberi keutamaan ialah fakultas ekonomi. Saya sungguh terperanjat melihat mereka begitu agresif dan serius belajar ekonomi. Di akhir tahun di universitas, mahasiswa diharuskan mengerjakan proyek. Mereka harus mempraktekkannya. Dan Anda hanya akan lulus jika tim Anda (10 pelajar setiap tim) dapat keuntungan sebanyak US$ 1 juta! Anda terperanjat? Itulah kenyataannya. "

Kesimpulan, pada teori Stephen adalah, melahirkan anak dan keturunan yang cerdas adalah keharusan. Tentunya bukan perkara yang bisa diselesaikan semalaman. Perlu proses, melewati beberapa generasi mungkin?

Kabar lain tentang bagaimana pendidikan anak adalah dari saudara kita di Palestina. Mengapa Israel mengincar anak-anak Palestina? Terjawab sudah mengapa agresi Israel yang biadab dari 27 Desember 2008 kemarin memfokuskan diri pada pembantaian anak-anak Palestina di Jalur Gaza .

Seperti yang kita ketahui, setelah lewat dua minggu, jumlah korban tewas akibat Holocaust itu sudah mencapai lebih dari 900 orang. Hampir setengah darinya adalah anak-anak.

Selain karena memang tabiat Yahudi yang tidak punya nurani, target anak-anak bukanlah kebetulan belaka. Sebulan lalu, seusai Ramadhan 1429 Hijriah, Ismail Haniya, pemimpin Hamas, melantik sekitar 3500 anak-anak Palestina yang sudah hafidz al-Qur'an.

Anak-anak yang sudah hafal 30 juz al-Qur'an ini menjadi sumber ketakutan Zionis Yahudi. "Jika dalam seusia muda itu mereka sudah menguasai al-Qur'an, bayangkan 20 tahun lagi mereka akan jadi seperti apa?" demikian pemikiran yang berkembang di pikiran orang-orang Yahudi.

Tidak heran jika anak Palestina menjadi para penghapal al-Qur'an. Kondisi Gaza yang diblokade dari segala arah oleh Israel menjadikan mereka terus intens berinteraksi dengan al-Qur'an. Tak ada yang main playstation atau game. Namun kondisi itu memacu mereka untuk menjadi para penghapal yang masih begitu belia. Kini, karena ketakutan sang penjajah, sekitar 500 bocah penghapal al-Qur'an itu telah syahid.

Perang panjang dengan Yahudi akan berlanjut entah sampai berapa generasi lagi. Ini cuma masalah giliran. Sekarang Palestina dan besok bisa jadi Indonesia . Ambil contoh tetangga kita yang terdekat, Singapura.

Contoh yang penulis ambil sederhana saja, rokok. Benarkah merokok dapat melahirkan generasi "goblok"? Kata goblok diambil bukan dari penulis, tapi kata itu dari Stephen Carr Leon sendiri. Dia sudah menemui beberapa bukti yang menyokong teori ini. "Lihat saja Indonesia ," katanya seperti dalam tulisan itu. "Jika Anda ke Jakarta , dimana saja Anda berada; dari restoran, teater, kebun bunga hingga ke museum, hidung Anda akan segera mencium asap rokok! Dan harga rokok? Cuma 70 sen dolar! Hasilnya! Dengan penduduk berjumlah jutaan orang, ada berapa banyakkah universitas? Hasil apakah yang dapat dibanggakan? Teknologi? Jauh sekali. Adakah mereka dapat berbahasa selain dari bahasa mereka sendiri? Mengapa mereka begitu sukar sekali menguasai bahasa Inggris? Di tangga berapakah kedudukan mereka di pertandingan matematika sedunia? Adakah ini bukan akibat merokok? Anda pikirlah sendiri?"

Sabili Edisi No. 16 Th XVI 26 Februari 2009/1 Rabiul Awal 1430H

Baca Selanjutnya ..